Pages

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

8 June 2012

Kosong


Aku katakan pada Elang Tua,
“Aku tiba pada perjalanan yang lain, sekarang akan kuantarkan Elang  yang terkuat di Timur menuju singgasananya”

Elang Tua menangis terharu bahagia,
“Bahwasanya itulah yang ingin kudengar saat aku masih menghirup udara” ujarnya.
“Sebab itu luruskanlah hatimu jangan bercabang sedikitpun juga, supaya janganlah engkau terlalu bersusah di bawah matahari karenanya,” lanjutnya.

Aku hanya tersenyum dan kukatakan pada Elang Tua,
“Dengan darah dan doa”
Aku katakan itu dengan bangga, biarlah Elang Tua berbahagia tanpa perlu tahu bahwa hati ini belum terkembang, hati ini menciut dengan takutnya. Kosong.


Jakarta, 9 Juni 2012

24 January 2012

Elang dari Utara


I used to hold u like this

Engkau adalah Elang dari Utara
Engkau raja yang bermahkota, bukan lagi dengan pisau bermata empat, bukan lagi dengan tanah dan ombak.
Engkau datang dari yang terbesar, engkau datang dari yang paling berani. Bukan lagi dengan patung-patung, bukan lagi dengan bual sumur.
Wahai Elang dari Utara, kemana saja engkau telah terbang?
Sampaikah engkau ke timur? Sejauh Seram, ke pulau-pulau?
Sampaikah Engkau ke Selatan? Sejauh hutan, lubang-lubang tambang?
Sampaikah Engkau  pada wanitamu? Sejauh usia, pengabdian terbesar?
Engkau adalah Elang dari Utara
Telah menua dan telah melemah, bukan lagi dengan tenaga dan usia namun lihatlah apa yang kulihat darimu Sang Elang Seribu Hikmat, engkau adalah terangku, engkau adalah buku sejarahku yang dituliskan dan dibacakan setiap hari oleh kerasnya gema cinta

Gelap telah datang menghampiri kita di tanah asing.
Kitalah keramaian ditengah keramaian, namun ada sepi saat mataku melihat matamu yang telah lelah karena usia.
Bertahun lalu saat aku meninggalkanmu di bawah sana sementara aku terbang menjauh, saat itu engkau adalah Elang yang telah lama membawa makanan ke sarang, lalu engkau berhadapan pada kenyataan bahwa bayi Elang telah sanggup terbang keluar.
Dalam detik aku akan meninggalkanmu disini, sama persis seperti saat itu.
Hanya waktu dan ruang yang akan mengabadikan perpisahan kita.
Hanya sekuat laju roda-roda yang bertautan panjang.

Sancaka siap menelanku untuk meliuk melintasi tanah asing sampai esok ia akan memuntahkanku di ujung sana, jauh dari kepakmu.
Kali inipun kau tidak akan berkuasa untuk melepaskanku dari cengkeraman si ular hitam dengan cakarmu yang masih kokoh, dan kau berkutat dengan pikirmu sampai kau memelukku dan berbisik:
Jika tiba waktunya kau memang harus berjalan sendiri, berjalan kuat seperti yang sudah saya lakukan
Tak kurang tak lebih dan airmataku menetes, mual, bertahan di perut Si Ular.

(Jakarta, 24-01-2012 - Blackout, in a minute to low battery, missing my dad and his story)

26 April 2011

Untukmu, jika kau masih disitu

Hari ini aku menyapamu yang masih ada disitu. Iya aku tahu kau selalu ada disitu walaupun tak pernah membiarkan siapapun melihatmu. Kau bilang kau masih sama dengan yang dulu, sama seperti disaat aku meninggalkanmu. Apakah aku pernah meninggalkanmu? Katakan saja iya.

Ada banyak kata-kata yang ingin aku tuliskan. Kata-kata yang seharusnya aku katakan padamu sedari dulu. Jika saja aku bisa. Ingatkah kau bahwa Telur-telur tanda Tanya itu masih banyak, warna-warna itu semakin membingungkan, kau hitam sehitam-hitamnya hitam! Tapi juga kau semerah-merahnya merah!
Mengapa aku meradang padamu yang tidak pernah marah ya, setidaknya kau tidak pernah marah padaku yang datang dan pergi seenakku saja…

Aku harap aku masih bisa, datang padamu apa adanya. Aku juga tidak berubah, masih suka dengan kecerianmu yang berbalut tanda Tanya. Aku berharap aku masih bisa, datang padamu dan membayar semuanya, utang cerita yang telah kugagalkan sebelumnya..

Biarlah waktu berlalu dan merenggut semua kesakitan yang lama, waktu tidak akan mengubah caraku memandangmu, bagiku kau tidak pernah tua. Padamu ada banyak harapan. Kau simpan erat-erat dalam peluk malam sendirian. Sekarang tunjukkanlah itu, kau terlalu membiasakan diri untuk tidak terlihat. Aku ingin kau membaginya pada pagi dan melemparkannya tinggi-tinggi kepada siang. Sambutlah kembali sejuta balasan sukacita bahkan lebih dari yang kau harapkan.

Apakah aku pernah meninggalkanmu? Katakan saja iya. Tetapi aku tidak akan pernah melupakanmu…
Hai Cinta, Apa warnamu hari ini?